Siapapun yang menjadi kekasihmu nanti, aku yakin dia akan menyayangimu seperti aku menyayangimu.
Mungkin lebih.
Karena dia akan lebih punya banyak waktu untukmu. Dia juga akan ada setiap saat kau butuh. Dia bisa menemanimu dalam perjalanan tanpa rencana. Dia mencintaimu tanpa terhalang jarak.

Siapapun dia yang kelak mendampingimu setelahku, aku yakin dia akan menjagamu seperti aku menjagamu.
Bahkan lebih.
Karena dia akan selalu ada di sisi kanan tempat tidurmu. Dia juga yang akan memelukmu sepanjang malam. Dia bisa menjagamu tetap lelap dalam kehangatan raganya.

Siapapun yang kau cintai setelah kepergianku, selalu akan lebih baik dariku.
Karena aku hanya bisa mengucap sayang lewat pesan singkat. Aku hanya bisa menemanimu lewat suara di seberang telepon. Aku hanya bisa memelukmu dalam gambar tak bergerak. Aku hanya bisa menjagamu dalam jeda. Aku hanya bisa mencintai semampuku menghapus jarak.

Siapapun yang menjadi kekasihmu nanti, dia juaranya.

Photo of the Day

  • March,31st,2014 at 6:28 PM

Bukan tentang kata “tidak” yang kudengar.
Bukan juga tentang penolakan yang kudapat.
Tapi tentang kenyataan bahwa sekali lagi, ternyata aku tidak cukup layak untuk dicintai seseorang.

Bukan tentang kata “tidak” yang kudengar.
Bukan juga tentang penolakan yang kudapat.
Tapi tentang kenyataan bahwa sekali lagi, ternyata aku tidak cukup layak untuk dicintai seseorang.

Hari Satu - Izinkan Aku Sekali Lagi

  • March,31st,2014 at 5:43 PM

Aku datang.
Bukan untuk memintamu kembali. Bukan juga untuk berpanjang lebar menjelaskan alasan-alasan atas perbuatanku padamu. Aku datang dengan mencoba tidak membawa serta pengharapan. Meski itu berarti membohongi diriku sendiri. Karena seribu kalipun aku berkata bahwa aku telah berhenti berharap, harapan itu selalu ada.

Aku hanya ingin memelukmu sekali saja, untuk terakhir kali. Sekali saja sepanjang hari.
Aku hanya ingin memelukmu dalam diam. Dalam diam sepanjang malam.

Karena betapa keras aku berjuang, aku akan tetap kalah dalam perang. Izinkan aku memelukmu, bukan untuk sekali lagi berjuang, tapi untuk terakhir kali sebelum aku benar-benar menghilang.


A Long March
— lifeless

  • March,30th,2014 at 6:49 AM

Ever waking up in the morning missing someone you no longer have?
And you feel like you don’t want to live that day…

I do.
Every day since you left.

Photo of the Day

  • March,29th,2014 at 1:46 PM

Because someday is a mystery.

Because someday is a mystery.

Photo of the Day

  • March,16th,2014 at 8:43 AM

"Of course it’s happening inside your head, but why on earth should that mean that it is not real?" — (Albus Dumbledore)

To those who dreamed last night, but could only dream because what happened in that dream was too good to be true. – View on Path.

"Of course it’s happening inside your head, but why on earth should that mean that it is not real?" — (Albus Dumbledore)

To those who dreamed last night, but could only dream because what happened in that dream was too good to be true. – View on Path.

Bukan Untuk Siapa-siapa

  • February,27th,2014 at 6:50 AM

Mungkin ini bukan cinta.
Mungkin ini cuma debar yang sama yang datang ketika tidak sengaja melihat fotonya di social media.
Mungkin ini cuma tanpa sadar senyum-senyum sendiri ketika membaca pesan singkat darinya.
Mungkin ini cuma kegelisahan yang melanda ketika kabar darinya tidak kunjung tiba.
Mungkin ini cuma kekecewaan yang biasa ada ketika ternyata apa yang kau rasa, tidak dia rasa.

Pasti ini bukan cinta.


Februari 27
— si pengharap yang sok kece

A Broken Soul

  • February,12th,2014 at 5:36 PM

On my way home from work today, I caught myself talking alone, to myself. I didn’t know for how long and since when I had done that dialogue between me and myself. All I remembered was, I did some talking like I was in the middle of a phone conversation with you. I imagined you said something to me, and then I said something back to you. Exactly like what we usually did almost every day, when we were still together.

When I realized of what I was doing, I was shocked and sad at the same time. All of sudden I remembered what one of my friends said years ago:
“Kalau sayang sama seseorang, cukup sepenuh hati saja, jangan sepenuh jiwa. Jadi kalau pisah, cuma sakit hati, bukan sakit jiwa.”

Now, I wonder.
Have I loved you with all of my soul?
Does it mean now my soul is mentally broken?

Now, I’m scared.


February 12
— a broken piece of a whole

Lifeless

  • February,6th,2014 at 7:23 AM

Waking up in the morning has been a hard time for me, ever since we’re no longer together.
Every morning, the first thing I do is still checking my phone, wondering if there is a good morning text from you or not. The next thing I do is struggling not to text nor to call you.

Lunch time has been another hard time for me, ever since we’re no longer an item.
I never thought that a text “don’t forget your lunch” which in my opinion was cheesy and lame, now might sound important to me.
I wonder about what you have for lunch. I wonder about you. I wonder if you ever wonder about me too.

Going back home has been another hard time for me too, ever since we’re no longer a couple.
On my way home, I can’t help myself thinking of you and what we usually did at the exact moment in the past. A long conversation on the phone that even sometimes led us to a fight, was a beautiful thing to remember.
Coming home is not the same without you.

Going to bed at night…
You don’t want to know how I have been like before going to bed, ever since we’re no longer as one.
You don’t want to know, and I’m not strong enough to tell.

You were my life, but then you took yourself away from me.


February 6th
— feel like lifeless

What I Miss About You

  • February,5th,2014 at 12:39 PM

The way you wrapped your arm around my waist when you were sleeping. It was uncomfortable sometimes, but not because of you. Simply because I felt hot. But I let you do that, because I knew I would miss it when there was no chance of us doing it anymore.

The way you laughed when I was acting silly. I knew it wasn’t that funny, but you kept laughing anyway. You always looked better looking when you were laughing, and I knew I would always miss that look.

The way you kept quiet suddenly when you were upset. I knew that I did something wrong when you became quiet all of sudden like that. Sometimes I got mad when you did that. But some other times, I knew I should say some sweet words to make you smile again. Too bad, I didn’t do that quite often. If I knew I would even miss that kind of moment, I did everything to make you back in the mood again.

The way you laid your head on my chest when we were watching TV together. Sometimes I got annoyed because your hair tickled my nose. Sometimes I complained because your hair blocked my eyes and I couldn’t see the TV screen. But most of the times, I enjoyed the moment, because when you laid your back down on my chest, I felt warm. And deep inside I knew, I would always miss that moment soon.

The way you accepted my apology, no matter how badly I treated you.
The way you loved me for who I was.
The way you were.
When you were just you.
I miss that. I miss you.

The moment we had when we were together was more than I deserved.
And there will never be anything about you I will change, because you are you and you are what I miss.

This letter is never long enough to write what I miss about you, so I stop here.


February 5
— Your Knight, for once

Gemini, Britney

  • February,4th,2014 at 12:19 PM

Hai, Kak Gembrit.

Kak Gembrit yang berzodiak Gemini dan penggemar Britney, apa kabar? Salam kenal dari aku yang meski bukan seorang Gemini, adalah seorang penggemar Britney.

Kak Gembrit yang makin hari makin kece dan berisi, aku memberanikan diri menulis surat ini karena aku pikir Kakak adalah orang yang tepat untuk bertukar pikiran.

Sebagai penggemar Britney, Kakak pasti mengenal lagu "Every Time" dengan baik, kan? Kak, saat ini, lagu itu sangat menggambarkan keadaanku.

"Notice me
Take my hand
Why are we,
Strangers when
Our love is strong
Why carry on without me?”

Aku baru saja mengalami perpisahan dengan seseorang yang sangat kucinta, Kak. Dia yang dulu selalu ada di dekatku, tapi kini jadi orang asing, padahal kami masih saling menyayangi.

"I make believe
That you are here
It’s the only way
I see clear
What have I done
You seem to move on easy.”

Sampai detik ini, aku masih percaya akan kesempatan kedua. Meski aku juga tak henti bertanya ke diri sendiri, di mana sebenarnya yang salah. Aku masih belum bisa beranjak dari keadaan ini. Moving on is not easy for me.

"At night I pray
That soon your face
Will fade away.”

Saat menjelang tidur, adalah saat paling sulit bagiku. Tak bisa tidak memikirkannya, seberapa kuatnya aku mencoba. Kadang kuharap aku bisa amnesia sedikit saja, tapi hati selalu menolak lupa.

"…and everytime I see you in my dreams,
I see your face, you’re haunting me.
I guess I need you baby.”

Sebagai seorang Leo, mestinya aku tidak terlalu percaya dengan zodiak. Tapi aku mulai kesal selalu dihantui kegelisahan ini. Kak Gembrit, untuk satu kali ini saja, bisakah aku meminta sedikit saranmu?

Ajari aku move on dari seorang Gemini.

4 Februari,
follower-mu.

Sederhana Saja

  • February,3rd,2014 at 7:46 AM

Sederhana saja, tidak banyak yang sebenarnya kita harapkan ada saat kita memutuskan untuk jatuh dalam cinta.

Kita butuh sepasang mata lain untuk dipandangi lekat-lekat saat ingin menyampaikan sesuatu yang tak bisa disampaikan lewat kata. Sepasang mata milik orang lain yang saat kita lihat ke dalamnya, kita temukan binar yang sama dengan yang (mungkin) terpancar dari mata kita.

Kita butuh sepasang telinga milik orang lain yang terbuka untuk mendengar apa yang ingin dia dengar. Sepasang telinga yang meski tanpa niat mendengarkan pun, mampu menangkap apa yang dibisikkan dari hati.

Kita butuh mulut orang lain yang mengalirkan kata-kata saat kita sedang tidak mampu berucap. Sebuah mulut lain yang tahu kapan harus tertutup rapat saat bicara adalah bukan hal yang diperlukan. Sebuah mulut yang saat mengukir senyuman mampu mengangkat semua gundah meski sekilas saja kita melihatnya.

Kita butuh tangan lain yang sentuhan hangatnya mampu menenangkan emosi. Tangan dengan jari-jarinya yang selalu menyambut tepukan sebelah tangan. Tangan yang selalu ada untuk digenggam saat kita hilang arah, saat butuh pegangan, atau saat sekadar menyeberangi jalan.

Kita butuh hati yang mengerti bahwa hati orang lain tidak bisa diatur. Hati yang tanpa diduga jatuh dan mengisi ruang hati yang lain. Hati yang juga bisa kapan saja hilang dan menyisakan hampa. Hati yang meski telah pergi, kadang datang lagi.

Tapi kita selalu merasa bahwa kita butuh lebih, dan kita sadar bahwa ternyata cinta tidak sederhana saja.

02-03
Kata Mantan

Biasa

  • February,2nd,2014 at 9:03 AM

Kamu bilang aku harus terbiasa tanpamu.
Itu berarti aku harus terbiasa kesepian.
Aku harus terbiasa tidak berbicara.
Aku juga harus terbiasa menyendiri.

Harus terbiasa kesepian.
Entah sampai mana batas kemampuanku untuk akhirnya berhasil membiasakan diri dengan kesepian. Entah kapan aku akhirnya bisa berteman dengan musuh nomor satuku, kesepian.

Aku harus terbiasa dengan kesepian. Meski mungkin rusaknya jiwaku adalah harga yang harus kubayar.

Harus terbiasa tak banyak bicara.
Aku hanya punya kesempatan bercakap-cakap dengan orang lain saat pagi hingga petang. Sesampainya di rumah, sunyi yang menyambutku. Satu-satunya suara orang yang kudengar hanyalah yang berasal dari televisi. Hari demi hari begitu saja. Saat menghabiskan akhir pekan di rumah saja, berarti genap 48 jam aku tidak punya lawan bicara.

Aku harus terbiasa untuk tak banyak bicara. Meski mungkin aku akan lupa bagaimana caranya berkata-kata.

Harus terbiasa menyendiri.
Menikmati percakapan imajiner di kepalaku ditemani bercangkir kopi dan berbatang-batang rokok sepertinya tidak terlalu buruk. Lagi pula, aku memang sudah terbiasa menertawakan diri sendiri.

Aku harus terbiasa menyendiri.
Meski mungkin aku bisa terbunuh oleh pikiranku sendiri.

Suatu hari, aku akan terbiasa tanpamu. Nanti, saat yang tersisa di hatiku cuma amarah dan benci.

O2-02, 12:34 am
Puntung Rokok-mu

Kembali Belajar

  • February,1st,2014 at 4:22 PM

Bulan lalu, Januari. Bulan pertama. Bulan dengan semestinya banyak hal baru. Bagiku, tiap Januari biasanya berlalu begitu saja. Biasanya begitu, tapi tidak tahun ini. Januari kemarin, aku benar-benar menjadi orang baru. Baru melajang.

Hari ini, hari pertama di bulan baru. Bulan kedua. Bulan penuh cinta, kata mereka yang bercinta. Yang sedang tidak bercinta, tidak peduli. Entah memang tak ambil pusing, atau pura-pura acuh. Lebih banyak yang tidak peduli, sih. Lantas, aku termasuk yang mana? Aku bukan mereka yang tidak peduli, tapi aku juga bukan lagi seorang pecinta.

Sekarang aku seorang pelajar. Aku kembali belajar merasakan bagaimana biasanya aku hidup sendiri sebelum ada dia di sampingku. Aku kembali belajar tertawa. Menertawakan hal-hal sederhana yang meski tak lucu, harus ditertawakan. Aku belajar menertawakan diri sendiri. Aku belajar membiasakan diri dalam diam.

Rumah ini sepi. Rumah tempatku belajar.
Aku kesulitan belajar berteman dengan kesepian.
Aku tidak kunjung merasa nyaman berkutat dengan kesendirian.
Aku selalu gagal belajar menangis.

Bukan karena aku merasa bahwa sebagai laki-laki, aku pantang menangis.
Aku hanya tidak bisa menangis.
Tidak bisa lagi.

Tapi aku kini pandai berpura-pura.
Pura-pura bahagia.

Terima kasih telah mengajarkanku.
Surat ini untukmu, Guru.

  • January,16th,2014 at 9:22 PM

Waking up in the middle of the night, and knowing you were sleeping peacefully beside me.
I looked at you, and gently kissed you on the cheek very softly so as not to wake you up.
I pulled the blanket down and quietly went back to my side of the bed, then as I laid my back down, you turned to me and wrapped your arm around my waist. Then you put your head on my chest, continued sleeping.

I put one hand on your head and played with your hair. My other hand touched your arm.
I smiled.
In happiness.

Thank you for bringing those things back to me.

But tonight, I’m going back to bed alone.

Profile

WhateverLife
A random contradictory of a boring rerun and a cheap stripping series; full of lies and a little luck with a touch of a bittersweet secrets.
About You

Ahoy

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aliquam nisi lorem, pulvinar id, commodo feugiat, vehicula et, mauris. Aliquam mattis porta urna. Maecenas dui neque, rhoncus sed, vehicula vitae, auctor at, nisi. Aenean id massa ut lacus molestie porta. Curabitur sit amet quam id libero suscipit venenatis.

Donec placerat mauris commodo dolor. Nulla tincidunt. Nulla vitae augue. Suspendisse ac pede. Cras tincidunt pretium felis. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Pellentesque porttitor mi id felis. Maecenas nec augue. Praesent a quam pretium leo congue accumsan.

Links