Hai @lionychan,
Aku ingin bercerita sedikit tentang hal-hal menyenangkan yang tersisa dari #30HariMenulisSuratCinta tahun ini.
Salah satu yang menyenangkan di #30HariMenulisSuratCinta kali ini adalah aku bisa berkerjasama denganmu: Tukang Pos yang bersedia repot mengurus surat-suratku dan juga sering mengingatkan untuk tetap semangat dan konsisten dalam menulis.
Selain itu, di #30HariMenulisSuratCinta tahun ini aku agak lebih bersemangat dalam menulis dibandingkan tahun sebelumnya. Mungkin karena sejak awal aku berniat menjadikan program tahunan @PosCinta ini sebagai kesempatan untuk berlatih menulis dalam bahasa Indonesia. Bukan sombong atau tidak nasionalis, hanya saja selama ini aku lebih nyaman mengalirkan ide lewat tulisan dalam bahasa asing. Tahun lalu hampir semua suratku ditulis dalam bahasa Inggris, karena aku tidak terlalu percaya diri menulis dalam bahasa Indonesia. Rasanya tulisanku selalu terkesan kaku, gombal, dan berlebihan.
Satu lagi alasan kenapa #30HariMenulisSuratCinta tahun ini berkesan adalah karena sebagian besar suratku dimuat di blog @PosCinta, lebih banyak dibandingkan tahun kemarin. Selama 30 hari, hampir setiap hari aku merasakan kepuasan sederhana saat melihat tulisanku dimuat oleh @PosCinta. Memang sih, dimuatnya tulisan kita di blog @PosCinta itu cuma bonus, tapi tetap saja rasanya menyenangkan karena rasanya tulisan kita diapresiasi.
Selama 30 hari terakhir, menulis menjadi rutinitas yang menyenangkan, walau hanya sekadar menulis surat. Sebenarnya menulis adalah sesuatu yang baru bagiku, dan meski sering terbentur masalah ide, aku mulai mengakuinya sebagai salah satu hobiku. Tentu saja aku masih harus banyak belajar untuk menghasilkan tulisan yang layak dibaca, paling tidak untuk diriku sendiri. Dan aku beruntung, karena #30HariMenulisSuratCinta membantuku belajar.
Terima kasih karena sudah mau repot jadi tukang pos-ku. Terima kasih juga untuk semua kru @PosCinta atas kerjasama yang baik dan menyenangkan selama 30 hari ini.
13 Februari
― si amatir yang sok hebat
Dear Connie,
Ternyata kau berbeda dari yang kubayangkan selama ini. Kau tampak “matang”. Ibarat buah, kau matang di pohon dan siap menunggu jatuh tertiup angin atau dimakan kalong. Wajahmu yang sendu nan mistis, tampak judes jelita memancarkan rona susuk bunga kantil. Suatu kehormatan bisa bertatap muka denganmu, tapi yang kucari bukan Connie Sutedja.
Dear Connie,
Apakah aku baru saja berjalan menembus waktu? Kau sungguh trendy dengan potongan rambut ala Demi Moore di film Ghost. Di balik kepribadianmu yang nyinyir ketomboy-tomboy-an, ternyata kau adalah seorang gadis pemalu yang tak banyak bicara. Sungguh terharu bisa menemuimu di balik belenggu pintu cinta ini, tapi yang kucari bukan Connie Dio.
Dear Connie,
Selama ini kupikir kau adalah sesosok gadis molek bertubuh sintal, berkulit broken white, dan berambut hitam. Ternyata kini tubuhmu telah menyusut. Mungkin karena kau diet terlalu ketat. Rambut pirangmu mengingatkanku pada Lia Tiga Macan. Benar-benar mencermikan kepribadianmu yang tidak senonoh namun soleha. Bangga sekali bisa bersilaturahmi denganmu, tapi yang kucari bukan Connie Talbot.
Dear Connie,
Aku telah jauh mengembara, tapi tak kunjung kau kutemukan. Semua Connie yang kutemui, bukanlah Connie yang kucari. Entah sampai kapan aku kuat berkelana mencarimu. Mungkin kita memang tidak berjodoh, atau mungkin keberadaanmu tak lebih dari sekadar legenda. Hanya Tuhan dan Connie Nurlita yang tahu.
12 Februari
― si pengembara yang kehabisan ide
DEPARTEMEN PENGENDALIAN CINTA DAN PERLINDUNGAN JOMBLO
Jalan Terus Nomor 1 Di Hatimu - Semarang Kaline Banjir
Telepon: 108 Email: andhikacitra@gmail.com Twitter: @andhkctra
Nomor : 30/30HariMenulisSuratCinta/12022013
Perihal : Surat Pengantar Pertemuan Pertama
Lampiran : 1 (Satu) Untuk Selamanya
Kepada:
The first day I wrote a letter, I tried to express my emotions in words. Saying things in a written language to let you know my feeling sounded like a good idea. So, I decided to send you one. But, I didn’t.
About three weeks after, I supposed to present you something as a reminder that I didn’t forget how long we had been together. I thought I should prove it to you. But, I didn’t.
Just two days ago, you told me how you were impressed by a story I once wrote to someone from the past. I realized that treating you the same romance was the next best thing to do. So, I planned to write you a better love story about us. But, I didn’t.
***
I didn’t send the first letter to you, because I wanted you to be my last.
I didn’t remember our anniversary, but until right now I never forget the moment when I met you for first time.
I didn’t write you a better love story about us, and the only reason was because I didn’t want to end it.
***
I’m not really comfortable to romantically show what’s inside my heart using words. I’m afraid it will lose the meaning, and you will end up misunderstood. I’m just a man who’s full of excuses and a little less than romantic, but stupid enough to write you a letter. This one you’re reading now is the unwritten letter I wrote for you on the first day. I send it to you now, 29 days later.
February 11
― the ignorance who cares
Akan selalu ada pertanyaan yang rasanya lebih baik disimpan dalam hati. Bukan karena khawatir tidak siap menerima jawabannya, tapi karena tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Pertanyaan yang akhirnya hanya akan berujung pada rasa penasaran. Penasaran hingga tak ada yang bisa dilakukan selain memikirkan kemungkinan jawaban-jawabannya.
Satu-satunya jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan adalah “tidak”. Aku hanya perlu satu jawaban dari pertanyaan yang tidak berani kutanyakan padamu. Untuk hari ini, kurasa “tidak” itu sudah cukup.
10 Februari
― your unquestioned answer
Aku bukan tipe yang percaya dengan konsep “mantan terindah”. Kalau memang terindah, kenapa jadi mantan? Harusnya kita sama-sama berjuang dan saling mempertahankan, bukannya pasrah menjadi mantan bagi satu sama lain.
Tapi ya sudahlah, tidak ada yang salah dengan kita. Kalaupun memang mesti ada yang disalahkan, salahkan saja waktu yang telah mengikis rasa hingga hanya menyisakan status.
Tapi ternyata jenuh tidak bisa ditolak, kan? Mengalah sajalah. Melepasmu tidak sesulit yang aku kira, kok.
Silakan saja kamu simpan kenangan kita. Aku mau buat yang baru.
9 Februari
― si pejuang yang sok bertahan
Just want you to know that I’ve accomplished my new year’s resolution. Here they are:
1. Do the things you said I couldn’t do.
I am done doing things you said I couldn’t do. I walked away and never turned back. See? I can do that.
2. Help you with what you couldn’t do alone.
I’ve helped you let me go, so you didn’t have to leave me. No guilty feeling, isn’t that what you want?
3. Remind you we are in this together.
Keep in your mind that it takes two to tango. We started this together. We were both wrong. But we had fun, didn’t we? If we’re back like what we were before we met, just remember that you’re not the only stranger. I am too.
February 7
― a stranger’s ex
Dear, Love…
Apa kabar, Sayang? Semoga harimu indah. Aku sudah baca surat tentang pengalamanmu saat kau dikejar oleh 7 orang kurcaci maniak. Untung saja mereka cepat sadar kalau mereka salah orang. Entah siapa sebenarnya gadis yang mereka cari. Pasti seorang gadis nakal. Kalau dia gadis baik-baik, mana mungkin mau tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan dengan 7 orang laki-laki sekaligus. Kelakuan gadis-gadis muda zaman sekarang memang aneh-aneh. Aku jadi ingat kalau aku juga punya pengalaman aneh dengan seorang gadis misterius.
Beberapa bulan yang lalu, seorang gadis cantik tak dikenal datang ke pesta dansa di istanaku, dan mengajakku berdansa. Saat kami sedang asik berdansa, gadis cantik itu tiba-tiba saja lari tunggang langgang meninggalkanku. Sepertinya dia sangat kebelet hingga mendadak kabur dan tak sempat pamit sampai-sampai sepatunya copot sebelah. Aku menunggunya hingga lewat tengah malam, tapi dia tak juga kembali. Pasti dia sakit perut hingga kecepirit dan malu menemuiku lagi.
Saat aku sedang menebak kira-kira makanan apa yang sudah gadis itu makan hingga dia sakit perut, aku melihat sepatunya yang tertinggal di lantai. Sepatu yang copot itu ternyata sepatu sebelah kanan. Mengherankan, karena aku yakin aku melihatnya saat dia berlari. Kaki kanannya memakai sepatu, sedangkan kaki kirinya tidak. Kenapa yang tertinggal ini sebelah kanan juga? Gadis yang aneh. Sepatunya juga aneh. Dari jauh, sepatu itu tampak berkilau bagaikan kaca. Pasti harganya mahal. Setelah aku mendekat, aku jadi kecewa. Ternyata itu bukan sepatu kaca, tapi sepatu plastik murahan. Di bagian telapak kakinya ada tulisan “made in China”. Ada satu hal lagi yang membuatku terkaget-kaget. Sepatu kaca ala-ala itu sangat bau. Saat aku tak sengaja mencium aromanya, mataku langsung berkunang-kunang, dan aku jadi sulit bernafas. Sungguh tak menyangka kalau gadis secantik itu ternyata kakinya bau sekali.
Sampai hari ini, pasukan kerajaan masih mencari keberadaan gadis cantik yang misterius itu. Mereka diperintahkan untuk menangkap gadis itu atas 2 tuduhan. Pertama, karena dia telah mengotori istana saat dia kecepirit hingga berceceran di lantai. Kedua, karena dia telah membuatku sesak nafas selama 7 hari setelah aku mencium aroma bau kaki dari sepatu plastik murahan miliknya.
Sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan. Aku menyesal pernah berdansa dengan gadis durjana itu. Ternyata di balik wajah cantik, tubuh aduhai, dan gaun mewah yang indah, kelakuannya sangat tidak beradab.
Untunglah kau bukan gadis seperti dia. Aku lebih menyukai gadis sederhana seperti dirimu. Walau kau hanya seorang gadis miskin berwajah kumal dengan tubuh penuh jelaga dan hanya dibalut pakaian lusuh, tapi kau tetap terlihat cantik dan kepribadianmu juga sangat mengagumkan. Seandainya aku sudah mengenalmu sejak lama, pasti aku mengundangmu ke pesta dansa di istana. Aku akan berdansa denganmu sepanjang malam, bukan dengan gadis misterius berkaki bau itu.
Sayang, hari minggu nanti aku akan menjemputmu ke istana untuk bertemu orang tuaku. Kau tidak perlu khawatir, karena aku akan mengutus dayang-dayang istana agar mengurus penampilanmu, mulai dari rambut, dandanan, gaun, hingga sepatu. Kau bilang kau tidak punya sepatu, bukan? Tenang, nanti aku yang bereskan. Kau jaga saja kesehatanmu. Jangan terlalu banyak bekerja mengurus rumah, apalagi sampai membersihkan cerobong asap. Acuhkan saja ibu tiri dan saudara tirimu yang jahat itu. Mereka nanti akan menyesal karena telah memperlakukanmu dengan buruk.
Sampai jumpa di hari minggu, Cindy-ku sayang…
Februari 5
― Prince Charming
To everyone who hates me.
Have you ever thought about how it feels like to be the one who always gets the blame? When things don’t go well like how you expect them to, you start finding something to blame, so you blame me. You know, there’s always a day when you feel like the whole world is against you, and you need to struggle hard just to survive. It can happen any day of the week, so don’t blame me for something I’m not responsible for.
Have you ever realized that worrying only makes you look weak and pathetic? You always welcome me with complaints, even before I come closer. Can’t you just act a little brave and face me? Every day is a game, and you should play it right. If you don’t know what you’re fighting, you already lose.
Help yourself and try to make your life easier, because it’s you and your attitude that makes how I am. How I can be either good or bad is only something that happens in your mind. If I’m still not good enough for you, then blame nothing for not trying harder.
If you think you’re having a bad day, how about me? I’m nothing more than just the first day of the week, but almost everyone hates me without any reason. Don’t be surprised of what happens if I’m the one that hates you first.
It’s hard enough for me to be the day that comes right after Sunday.
Februari 4
― the day you always hate: Monday
Writing about you on Tumblr seems like nothing much, but it’s my way to show you that you never leave my mind, no matter how distance keeps us apart.
It’s another classroom’s story for you. Bukan cerita yang menarik, tapi siapa tahu kamu iseng ingin menyimaknya.
Di kelas kemarin, aku hanya punya sisa waktu sekitar 10 menit sebelum bel saat aku ingat bahwa masih ada satu materi lagi yang belum dibahas. Untung hanya review, jadi 10 menit pun cukup kalau hanya untuk mengulas kembali. Sebentar saja aku menjelaskan “Conditional Sentence Type 2” di depan kelas. Mereka sudah sering mempelajari materi ini sebelumnya, jadi aku langsung saja melanjutkan ke contoh penggunaannya dalam kalimat.
Entah kenapa saat di depan papan tulis, yang terpikir olehku adalah lagu dari Beyoncé, “If I were a Boy”. Untung bukan “Single Ladies”, kalau tidak bisa-bisa aku latah berdendang “if you like it then you should’ve put a ring on it…”.
“Okay, everyone. You know this song from Beyoncé, right?”, tanyaku di depan kelas sambil menunjuk tulisan “If I were a boy,” di papan tulis. Mereka kompak menjawab “Yes…” sambil mengangguk-angguk.
“This is only for the girls. Continue that sentence, and use your imagination.”. Kulihat cewek-cewek usia belasan tahun itu mulai berpikir. Sebagian mengernyitkan alis, sebagian lain saling berdiskusi.
“So girls, if you were a boy, what would you do?”, tanyaku lagi.
“If I were a boy, I would play football.”, jawab Icha.
“If I were a boy, I would ride my motorcycle very fast.”, kata Dilla.
“If I were a boy, I would play with boy friends.”, lanjut Marsha.
Sedikit ambigu, pikirku. “Boyfriends? Remember, you are being a boy.”.
Satu kelas tertawa, dan Marsha buru-buru menjelaskan, “No, Sir. I mean, I would play with my friends, and they’re all boys.”.
Aku ikut tertawa, tentu saja aku tahu maksudnya. Beberapa siswa perempuan lainnya lalu menyampaikan jawaban-jawaban yang standar dan tidak begitu kreatif.
“How about us, Sir? You don’t ask the boys?”, tanya seorang siswa laki-laki.
“Wait for your turn.”, jawabku sambil berjalan ke arah papan tulis lalu menulis “If I were a girl,” di sana.
“This is for the boys. What would you do if you were a girl?”, tanyaku kepada para siswa laki-laki yang tampaknya sudah siap dengan jawaban mereka masing-masing. Sejak tadi mereka sibuk mengobrol, tertawa-tawa, dan melakukan gerakan-gerakan aneh. Aku tahu apa yang ada dalam pikiran mereka.
“If I were a girl, I would wear sexy dress.”, kata Fandy, sambil meliukkan tubuhnya dengan sok seksi.
“If I were a girl, I would use make-up, lipstick, mascara, and…”, jawab Andre yang tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena satu kelas tertawa. Kudengar juga ada yang bertanya, “Kok lo bisa tau semua sih?”.
“If I were a girl, I would go to salon to have manicure and pedicure, and also rebonding.”, lanjut Rifky. Satu kelas kompak menyoraki remaja laki-laki yang botak itu.
“I don’t want to be a girl, Sir. I’m happy because I’m a boy and…”, kata Joshua, si anti-mainstream. Kalimatnya dipotong oleh Aldo, “…and you have that thing!”. That thing, semua tahu maksud dari that thing itu.
“If I were a girl, I would wear bra, 36D.”. Aldo kemudian menyampaikan kalimatnya sendiri sambil memutar-mutarkan tangan di dadanya, seolah-olah dia memang benar-benar perlu memakai bra. Satu kelas tak henti tertawa, termasuk beberapa siswa perempuan. Aku ikut tertawa kecil melihat kelakuan yang tidak senonoh itu. Meski itu tidak pantas, tapi kalau aku memarahinya, mereka akan menganggap aku guru yang tidak asik. Dasar! Boys will be boys.
Tiba-tiba, mereka bertanya padaku. “How about you, Sir? What would you do if you were a girl?”. Aku terdiam sebentar, dan sedikit bingung karena tidak mengira akan ditanya seperti itu. Aku berpikir sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian bel berbunyi, sebelum aku sempat menjawab. Bagus! Saved by the bell.
Ternyata mencari jawaban dari pertanyaan itu tidak mudah. Aku butuh waktu untuk sekadar berandai-andai karena aku tidak ingin khayalanku berakhir sia-sia. Apa yang akan kulakukan jika aku perempuan? What would I do if I were a girl?
Jika aku adalah perempuan, aku akan menjadi dirimu. Aku ingin merasakan seperti apa rasanya sekian lama bersahabat baik dengan seorang lelaki yang terlalu menjaga perasaan orang lain hingga tega menyingkirkan perasaan sendiri.
If I were a girl, I would be you, and I would probably find another male best friend. The one who doesn’t feel the pain every time he’s looking at his female best friend because he can’t stop thinking of how much he really wants her to be more than just a best friend.
If I were you, I would be more than a friend to me. But if I couldn’t, I would stop being a friend at all.
Tapi, aku ya aku. Jangankan bertindak nyata, berandai-andai saja aku payah.
February 2
― si sentence yang sok (un)conditional
Kembali mendengar kabar darimu membuatku terharu. Aku masih tidak percaya kalau kita akan bertemu lagi. Rasanya menyenangkan karena akhirnya kamu berhenti mengacuhkanku. Padahal kupikir kamu tidak mau lagi mengenalku setelah apa yang dulu pernah kuperbuat padamu.
Aku sangat sadar bahwa melupakan kenangan menyakitkan adalah hal yang tidak mudah. Aku yang terlalu sering meminta maaf malah menjadi seorang pengganggu yang makin kau jauhi. Tapi kini aku sudah cukup tahu diri, dan tidak lagi terlalu berharap akan kesempatan untuk memperbaiki semua yang telah kuhancurkan dulu. Kamu masih mau mengingatku saja sudah cukup.
Sungguh, kabar darimu kali ini adalah sesuatu yang harus kusyukuri. Aku bersyukur karena akhirnya kita akan bertemu kembali setelah selama ini aku hanya bisa mengenang masa-masa saat kita dulu terbiasa menghabiskan waktu bersama dengan duduk berdua dalam diam, senyuman, dan lirikan mata. Aku tak menyangka kalau ternyata masa-masa itu sebentar lagi akan terulang.
Aku bahagia karena akhirnya kita bisa duduk bersama. Kau duduk di pelaminan, dan aku duduk di kursi undangan.
Aku bahagia. Sungguh.
3 Februari
― si penyesal yang sok ikhlas

Here is to January.
The month that holds many memories from the past. Some are beautiful, some are better off forgotten. The month where I met some people I was once in love with and the ones that got my heart torn apart. The month where I put my hopes high enough to reach.
Here is to forgiving everyone for all their wrongs.
Some things are too hard to forgive, but I can always ignore, for the sake of my pride.
Here is to the geography.
Even distance can never beat the feeling of knowing that somewhere out there someone is missing me too.
Here is to you.
I love you.
January 31
― a distance’s fool